WARNING!!!!!

RATING 17+

UNTUK YANG TIDAK SUKA CERITA YANG BERTEMA ANGST

DAN

MENGANDUNG KEKERASAN FISIK, SEBAIKNYA TIDAK MEMBACA CERITA INI!!!!


SNSD – TVXQ – 2PM – KARA

shoot


Apa kamu pernah merasakan kekosongan, hampa dan bosan dalam dirimu??

Segala hal terasa tak menarik lagi, hingga kamu ingin mengakhiri segalanya???

Apa pernah kamu merasakan itu??

Bila iya, maka kamu bisa rasakan apa yang aku rasakan saat ini yaitu….HAMPA!!!

Semua terasa hampa, hingga aku tak tahu apa tujuanku untuk meneruskan hidup ini..


Semua berjalan sangat normal hingga terasa sangat membosankan.

Perubahan….

sesuatu yang baru, itu yang aku butuhkan.

Sesuatu yang menarik dan memicu jantungku untuk lebih aktif.

Itu yang aku butuhkan saat ini.

Apa kamu ada saran untuk itu???
Kalau ada, katakanlah sekarang!!!


APA??!!
Aku tak dapat mendengar apapun darimu??

Apa yang kamu katakan??

Semua terasa sangat hening…

Katakan dengan lebih keras agar aku dapat mendengar suaramu!!!


Ok sudahlah…percuma saja..

Karena aku tetap tak dapat mendengar apapun saat ini..

Semua sangat hening dan…hampa.

Maka sebaiknya aku memutuskan sendiri apa yang ingin aku lakukan.


Apa kamu mau ikut denganku…??

Merasakan sesuatu yang lain dari sebelumnya..

Yang menghilangkan rasa kosong ini…

Kalau kau juga merasakan hal yang sama..

Maka ikutlah denganku, tapi ada satu syarat..

Ini adalah permainanku..jadi kamu hanya boleh ikut untuk melihat apa yang aku lakukan.

Tapi kamu tak boleh ikut dalam permainan ini..MENGERTI!!!

Hari ini seperti biasa aku akan memulai aktivitasku sebagai manusia normal..

Yaitu berangkat ke kampus…

Tapi tunggu!!

Ada sesuatu yang penting yang harus kita bawa ke kampus karena itu akan menjadi alat kesenangan kita nanti…apa kau tahu itu??
Ayo cobalah menebak!!!

Dan kalau sudah tahu, maka diamlah…!!

Jangam biarkan orang lain tahu apa yang aku bawa..

Karena itu bisa merusak permainan ini.

Dan sekarang…

Ayo kita berangkat!!!

Kita hanya perlu berjalan kaki menuju kampusku, karena itu hanya berjarak beberapa blok dari tempat ini.

Hi…!!” Seorang laki-laki melambaikan tangan padaku.

Aku hanya mengangkat tangan membalas, aku menatapnya tanpa ekspresi.

Kau tahu siapa dia??

Dia adalah tetanggaku, Kim Junsu.

Dia satu kelas denganku di kampus karena kami mengambil jurusan yang sama.

Oppa tunggu..” panggil seorang gadis yang baru muncul dari rumahnya.

Dia adalah Im Yoona, kekasih Kim Junsu, dia juga tetanggaku.

Ayo cepat, aku harus kerjakan tugasku yang belum selesai!!!” Teriak Junsu pada Yoona.

Apa kau sudah mengerjakan paper dari Mr. Kwon?” tanya Junsu padaku.

Aku hanya mengangguk tanpa suara.

Yoona menjejeri kami dan kami berjalan bersama menyusuri jalanan.

Hari ini cerah sekali…” senang Yoona menatap ke arah langit, wajahnya tampak cerah seperti langit pagi ini.

Aku hanya mendonggak sesaat ke langit lalu kembali menatap lurus ke depan.

Hari ini memang sangat cerah, tapi itu tak dapat menerbitkan senyum di wajahku.

Terkadang aku ingin memiliki senyum seperti Yoona, tapi saat aku mencoba melakukannya, yang ada malah rasa sakit yang terasa dalam hatiku.

Mungkin rasa itu muncul karena efek kepalsuan yang ingin aku ciptakan, yaitu senyum palsu.

Aku benci kepalsuan…

Karena itu, aku akan bermain untuk mencari senyum yang sesungguhnya..

senyum yang tulus.

Sebenarnya belakangan ini aku telah merasakan hal itu, rasa tulus yang keluar dari hatiku.

Itu diberikan oleh kekasihku…

Dia memberiku kepuasan dan rasa nyaman.

Apa kau ingin tahu apa itu??

Ayo teruslah ikuti aku….

Onnie hari ini enaknya ngapain ya??” tanya Yoona padaku.

Aku hanya angkat bahu tanpa bersuara.

Ok sebenarnya aku telah memiliki rencana untuk hari ini, tapi itu ingin aku lakukan sendiri.

Tapi kalau Yoona ingin ikut dalam permainanku, bisa aku pikirkan nanti.

Tergantung moodku nanti….Jadi tunggu saja Yoona.

Kami bertiga telah tiba di gerbang kampus..

Aku dapat melihat beberapa teman kelasku yang baru tiba.

Yoona segera menghampiri teman-teman grupnya.

Jessica, gadis manja yang dingin.

Soooyoug, gadis bertubuh tinggi dan langsing yang selalu saja memegang makanan sebagai camilannya.

Juga ada Nicole, gadis pendatang dari Amerika yang masih bingung dengan budaya Korea.

Junsu menepuk pundakku dan memberi isyarat ia ingin bergabung dengan teman-temannya.

Aku hanya mengangguk dan menatapnya yang berjalan menuju segerombolan laki-laki yang sedang berbincang di anak tangga.

Tampak Jaejoong dan Yunho asyik bercanda, pasangan gay itu makin berani menunjukkan kemesraan mereka di depan umum.

Lalu ada Yuchun, sahabat Junsu yang juga merupakan pacar gelap Yoona.

Kasihan Junsu, dia hanya pria polos yang terlihat bodoh karen dibodohi oleh sahabat dan kekasihnya sendiri.

Aku kembali berjalan menuju lift, aku ingin ke lantai enam, aku ingin mengenalkanmu pada kekasihku.

Hwang Chansung, dia pasti telah menungguku di tempat rahasia kami.

Di lab Kimia di lantai paling atas gedung ini.

TING!!!

Lift berhenti di lantai lima.

Aku harus menggunakan tangga darurat untuk menuju lab kimia.

Itu karena lantai enam telah ditutup. Karena itu, tempat itu menjadi tempat kesukaanku.

Aku ingin menyapa Chansung sebentar sebelum memulai permainanku.

Sayang aku tak dapat mengajaknya untuk bermain bersamaku, karena bersamanya aku sedang memainkan permainan lain.

Aku membuka pintu Lab dengan hati-hati karena tak ingin mengagetkan Chansung. Tapi sepertinya ia sadar dengan kehadirangku, karena bunyi decitan pintu usang yang tak bisa diajak kompromi dengan niatku.

Aku tersenyum pada Chansung yang melihat ke arahku.

Aku mendekatinya dan mencium keningnya dengan lembut.

Pagi..” sapaku sambil tersenyum padanya, aku pastikan senyum ini bukanlah palsu.

Aku tulus tersenyum padanya. Walaupun aku tak mencintainya.

Lebih tepatnya…aku membencinya, sangat membencinya.

Sebenarnya Chansung tak bersalah karena rasa benci ini, karena aku hanya menbenci marganya.

Marga yang sama denganku.

Jadi intinya…aku benci semua orang yang mempunyai marga yang sama denganku.

Kenapa??

Karena orang tuaku bermarga Hwang, orang yang tak pernah menginginkanku, hingga mencampakkanku di sebuah panti asuhan di pinggiran kota Incheon.

Dan Chansung, dia merupakan laki-laki yang beruntung karena menjadi seorang Hwang yang pertama kali aku temui dalam hidupku, karena itu aku memberinya sesuatu yang special, bahkan tak pernah aku berikan pada keluarga yang telah mengadopsiku, keluarga Lee.

Oppa, hari ini aku dapat ide untuk memainkan permainan baru…semoga hari ini pasti akan jadi hari yang menyenangkan..” bisikku di dekat telingganya.

Aku menatapnya dengan lembut, seulas senyumku juga muncul karena melihat ekspresi dari Chansung.

Aku suka dengan ekspresi yang diberikan padaku saat ini, ekspresi yang sangat tulus.

Dan aku tahu itu….

Faaa..”

Ssstttt!!!!” potongku cepat. Aku meletakkan telunjukku di bibirnya.

Pergi dulu, nanti setelah puas bermain, aku pasti akan ke sini lagi..Bye..” kataku lalu mencium lembut bibirnya yang terasa sangat dingin.

Setelah itu aku berjalan meninggalkannya.

Aku tersenyum membayangkan kegembiraan hari ini.

Aku kembali turun ke lantai dua di mana kelasku berada.

Suasana telah sepi karena perkuliahan telah dimulai, aku berjalan dengan santai.

Dengar..!!

Kau hanya boleh diam, ini adalah permainanku jadi sebaiknya kamu jangan ikut campur..OK!!!

Jadi, ayo kita mulai bermain….!!!!

Begitu sampai di depan kelas, aku dapat merasakan riuhnya kelas, sepertinya hari ini dr. Han kembali bolos mengajar.

Baguslah, dengan begini aku bisa lebih leluasa mengajak teman-temanku bermain bersamaku.

Tunggu, apa sampai di sini kamu telah dapat menebak apa yang akan aku mainkan???
Tebaklah…..!!

Tapi aku tak ingin menunggumu menjawab karena pasti akan membuat mood bermainku memudar.

Aku membuka pintu kelas dan melangkah masuk, perlahan aku menutup dan menguncinya. Tak ada yang sadar itu.

Di hadapanku tampak Jiyoung, Seungyeon dan Junho sedang mengobrol sambil tertawa.

Di dekat mereka tampak si jenius Changmin sedang sibuk dengan notebooknya, di sampingnya Sooyoung sedang makan sambil memperhatikan aktivitas Changmin dengan sesekali menyuapkan keripik yang ia pegang ke mulut Changmin .

Di sudut ruangan terlihat Jaebum dan Jaejoong sedang adu panco, dan yang lainnya tampak bersorak memberi mereka semangat.

Aku dapat mendengar suara Jessica dan Yunho yang paling keras menyoraki pasangan mereka agar menang.

Di lain sisi, terlihat Yuri dan Tacyeon sedang bercanda mesra.

Aku segera menuju kursiku di sisi Sunny yang sedang saling berbisik dengan Wooyoung.

Di kursi belakangku, aku melihat Yoona dan Junsu duduk bersama, Junsu sedang mengerjakan tugasnya dan Yoona hanya duduk sambil membelai rambut Junsu, tapi sesekali gadis itu tersenyum nakal ke arah Yuchun yang duduk tak jauh dari mereka.

Hi..” sapa Sunny menyadari kehadiranku, aku hanya tersenyum kecil dan duduk di kursiku.

Aku menarik napas sesak dengan suasana ruangan ini, mereka makin riuh tapi aku makin merasa hening dan hampa.

Aku makin tak suka dengan hal yang aku alami ini.

Dengan malas aku membuka tasku, mataku terpaku pada benda yang tadi aku ambil di ruang kerja ayahku, benda yang akan aku gunakan sebagai alat pemuasku.

Aku tersenyum menatapnya.

Dengan cepat aku meraih benda itu dan mengarahkannya pada kepala Sunny.

DHUARR!!

Kepala gadis itu pecah oleh peluru berukuran 9 mm yang dengan sukses menembus kepalanya.

Aku suka sensasi dari itu, darah Sunny mengenai tubuhku yang hanya berjarak satu meter darinya, seketika itu juga aku mendengar suara jeritan dari teman-temanku.

AH!!!

Akhirnya aku dapat mendengarkan sesuatu yang menyenangkan lagi.

Aku tersenyum dan dengan cepat menembak kepala Jiyoung yang berlari ke arah pintu gadis itu jatuh ke lantai dan sekarat, lalu aku beralih ke arah Yuri dan Jaejoong.

DUARR!!! DHUARR!!!!

Dua peluruku mengenai perut Yuri dan dada Jaejoong, mereka terhempas ke tembok dan jatuh ke lantai.

AHH!!!

Aku makin suka permainan ini, ini makin terasa mengasikkan.

DUARR!!!

Aku menembak Taecyeon yang hendak menyerangku, pria itu tersungkur di lantai.

Dia pasti merasa kehilangan kekasihnya, Yuri. Aku suka ekpersi marah yang terpancar dari wajah pria itu.

Aku melihat tak ada lagi yang berani mendekatiku.

Mereka juga tak berani mendekati pintu, mereka hanya saling merapatkan diri ke dinding.

Aku tersenyum pada mereka, senyum yang sangat tulus.

Senyum yang sama…saat melihat wajah Chansung yang ketakutan, sama dengan ekspresi mereka saat ini.

Oh ya, aku lupa bilang padamu…

Apa kamu tahu permainan apa yang sedang aku lakukan dengan Chansung.

Tidak????

Kamu tak dapat menebaknya??

Ok, aku akan bilang padamu…


Permainannya memang tak seseru ini, karena aku hanya bermain irisan dengan Chansung. Permainan yang tak butuh tenaga ekstra seperti ini. Tapi aku suka dan menikmati setiap detik bersama Chansung, dan tentu saja menikmati setiap ekspresi dari Chansung saat menikmati permainan yang sedang aku lakukan.

Kami bermain irisan potongan tubuh.

Itu sangat seru dan mengasikkan.

Aku hanya perlu membekukan sebagian tubuh Chansung dengan nitrogen cair dan merasakan tiap sayatan yang aku buat, aku suka itu.

Memotong satu persatu bagian tubuhnya yang aku suka, dan dari semua itu…

Aku paling suka dengan lengan Chansung.

Dan agar tak terjadi infeksi pada tubuhnya, yang dapat merusak sensasi permainanku, aku hanya perlu memberinya sedikit antibiotik padanya.

Ya aku lakukan itu karena aku adalah manusia yang masih punya rasa iba.

Agar permainan terasa lebih hidup, tentu saja aku lakukan semua itu saat Chansung sadar, jadi aku bisa sekalian menikmati segala ekspresi Chansung saat aku bermain.

Jadi sekarang tinggal kamu yang memilih..

Melakukan permainan menembak atau sayatan???
Pilihlah!!!

BRAKK!! BRAKKK!!!

Pintu kelas berusaha didobrak dari luar, aku tak suka itu.

Itu merusak suasana hatiku yang baru merasa senang.

Aku segera naik ke meja dan melepas tembakan ke luar.

ARGHH!!!!

Kembali terdengar jeritan dari segala arah.

Ahhhh!!

Aku suka itu. Senyumku makin lebar..

Senyuman yang benar-benar sangat tulus.

Dengan cepat aku kembali mulai bermain lagi, aku melepas tembakan ke arah Yoona lalu beralih ke Yuchun, aku sengaja melewati Junsu.

Aku tak mau menyakiti Junsu seperti yang telah dilakukan Yoona dan Yuchun.

Lihat, aku masih berbuat baikkan???

Lalu mengarah ke Yunho, sayang tembakanku melesat. Yunho berlari dan sembunyi diantara meja-meja yang dipakai sebagai perisai.

Aku tersenyum sinis, bagus Jung Yunho, kamu membuat ini makin seru.

Aku berjalan diantara meja mendekatinya, mataku tetap waspada pada teman-temanku yang masih hidup, aku tak ingin mereka mengambil kesempatan untuk menyerangku.

BRAKK!!!

Akhirnya pintu kelas terbuka.

Aku berbalik ke arah pintu.

Oppa??” kagetku melihat salah satu polisi yang menerobos masuk.

Aku tersenyum pada Donghae oppa, wajahnya terlihat terkejut dan berubah pucat mengetahui penjahat-nya adalah aku, adik angkatnya.

Ia mengarahkan senjatanya padaku, senjata yang sama seperti yang sedang aku pegang, Glock kaliber  G19, sejata milik polisi.

Aku beruntung karena diantara polisi yang menerobos masuk hanya satu wajah yang aku kenal, hanya wajah Lee Donghae.

Tentu saja, mungkin setelah ini aku harus berhadapan dengan ayah dan ibuku yang juga seorang polisi.

Hmm..

Aku bisa bayangkan wajah syok mereka mengetahui hal ini nanti, Tiffany anak yang telah mereka adopsi dan rawat ,telah menjadi seorang pembunuh.

Aku rasa sebutan ‘pembunuh’ itu sangat keren dari pada sebutan bintang kelas.

Sebutan yang sejak lama aku dapat.


Nah, mungkin sekarang kamu bisa tahu dari mana keahlian aku ini, aku belajar menembak dari segala ocehan kakakku Donghae akan kebanggaannya sebagai seorang polisi yang tanpa sadar ia telah mengajarkan ilmu menembaknya padaku.

Dan tentang keahlian dalam bidang sayatan, itu aku pelajari dari ibuku yang menjadi ahli forensik di kepolisian. Dia seorang ahli percikan darah dan tanpa ia sadari banyak ilmu yang telah aku curi darinya.

Lihatkan bagaimana semua ilmu itu berguna…

Oya, selain itu aku juga mencuri beberapa botol nitrogen dan antibiotik dari ruang kerjanya di rumah, sedangkan untuk peralatan bedah yang aku pinjam untuk bermain dengan Chansung, mungkin setelah ini akan aku kembalikan.

Maaf ibu, aku tak sempat meminta izin sebelumnya.


Fany-ah..buang senjatamu!!!” perintah Donghae oppa dengan perlahan berjalan mendekatiku.

Aku kembali tersenyum padanya, aku tersenyum menatap wajah tegang dan gugupnya.

Itu terasa sangat lucu, dia adalah kakakku, tapi ia malah gugup berhadapan denganku, adik kesayangannya.

Aku ingin sekali tertawa, tapi aku berhasil menahannya.

Aku menyodorkan pistol milik ayah ke arahnya, ia mengangguk menyuruhku membuangnya.

Sepertinya Donghae oppa belum mengenalku dengan dekat, padahal aku sudah menjadi saudaranya selama 10 tahun, tapi sepertinya ia belum mengenal seorang Hwang Miyoung.

Uppsss..maksudku Tiffany.

Ya itulah namaku setelah keluar dari pantia asuhan, Tiffany.

Aku tak menyesal melakukan permainan ini, tentu saja karena ini sangat mengasikkan dan menghilangkan rasa hampaku.

Aku yakin setelah ini berakhir maka hampa itu akan kembali menguasaiku.

Dan aku tak mau itu.

Para polisi yang lain mulai bergerak mendekatiku, sedangkan teman-temanku perlahan bergerak keluar.

Apa mereka coba berhenti bermain tanpa persetujuanku????

Oh, aku tak suka itu.

Aku tak mau mereka mengendalikan permainan yang aku pimpin.

Dengan cepat aku mengarahkan pistolku pada Sooyoung yang telah berada di pintu,

tapi sebelum aku menembaknya, beberapa peluru malah bersarang di tubuhku, dan aku pastikan salah satunya berasal dari pistol Donghae oppa.

AHH!!!

Ternyata beginilah rasanya sakit, aku teerlalu sering merasakan hal itu, hingga aku hampir lupa bagaimana rasanya sakit itu.

Aku merasa tubuhku jatuh ke lantai dan merasakan pelukan Donghae oppa yang mendekapku dengan rasa bersalahnya.

Fany-ah..” panggilnya.

Aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Aku berusaha tersenyum tapi aku malah mengeluarkan muntahan darah dari mulutku.

Fany-ah..!!” teriak Donghae.

Cepat panggil tim medis..!!!” aku masih mendengar teriaknya.

Pandanganku makin mengabur, aku merasakan sakit yang merayap di seluruh tubuhku, aku tak dapat pastikan berapa peluru yang telah menembuh tubuhku.

Permainanku akan berakhir…

Aku tak tahu aku menang atau kalah…

Apa kau tahu???
Katakan saja..jangan takut…

Karena aku tak memiliki tenaga untuk bermain denganmu…

Lagi pula aku telah kehilangan pistol dari tanganku..jadi aku tak mungkin menembakmu…

SINNGGGG….

Semua kembali terasa hening…

Aku tak dapat merasakan apapun lagi…

Ini kembali hampa..

Tapi rasa hampa ini terasa berbeda dari rasa yang aku alami dulu…

Apakah ini???
Apa aku akan memulai permainan baru lagi???

Aku tak tahu…

Jadi kalau kau masih ingin tahu…

Maka tetaplah bersamaku…

Kita akan cari tahu bersama….

- THE END -

Maaf kalau aku suguhkan cerita seperti ini -___-”

Sekarang moodku lagi buruk banget makanya pengen nuangin kekesalan saja.

Kalau banyak yang ngga suka…ngga pa2 kok^^”

Tapi buat yang terlanjur bacaa tulisan ini, maka beri komentar ya…

Thx.